Sebagian besar orang merasa jengah kalau diajak bicara tentang kematian. Mereka akan menghindari dengan kata-kata; "Ngapain sih ngomongin begituan..". Bahkan ada yang bilang; ".. ente kayak kurang kerjaan aja..". Lebih parah lagi ada yang mengalihkan ke; ".. mendingan kita hepi-hepi..".

Kematian dikonotasikan sebagai sesuatu yang negatif dan tabu untuk dibicarakan. Bisa bikin sial katanya.. Dibilang juga bahwa kematian adalah sebuah topik berat yang hanya pantas dibicarakan para ustadz dan kyai serta para jompo yang sebentar lagi
game over. Padahal bisa jadi kita yang lebih muda yang terlebih dahulu 'ketamuan' Izrail ..wekekek... Padahal kematian sebagai suatu kepastian adalah sepositif-positifnya pemikiran yang harus jadi amalan rutin kita. Kalau perlu dalam sehari kita ingat mati puluhan bahkan ratusan kali, lebih keren lagi bila bisa ribuan kali!
Hanya dengan mengingat mati kita bisa memaksimalkan hidup!
Koq bisa? Kalau mau berbicara contoh, yang paling mudah tentu saja Rasulullah Muhammad SAW. Beliau adalah sosok yang paling banyak mengingat mati, dan menganjurkan para sahabatnya untuk juga banyak-banyak mengingat mati.
"Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu kematian!" (HR. Tirmidzi) Coba perhatikan prestasi Rasulullah SAW; kalau bicara tentang prestasi beliau di akherat yang beragama Islam nggak boleh ragu, tetapi tentu saja yang non-muslim akan mendebat. Jadi kita akan fokus pada salah satu prestasi manusiawi Rasulullah SAW di dunia:
diakui sebagai orang nomor #1 dalam daftar 100 manusia paling berpengaruh sepanjang sejarah dalam buku yang ditulis oleh seorang Yahudi. Koq prestasi lainnya nggak dibahas? Karena pengakuan tersebut sudah menjelaskan betapa hebatnya prestasi duniawi beliau. Karena yang menjadi parameter penilaian pasti prestasi-prestasi dan unsur-unsur penilaian lain yang terlihat dan terukur. Bahkan Hart sang penulis yang seorang Yahudi pun tidak menyangkalnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah;
Ibnu Umar ra. berkata, "Aku datang menemui Nabi SAW. bersama sepuluh orang, lalu salah seorang dari kaum Anshar bertanya, 'Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, "Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah orang-orang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat'. " Banyak mengingat mati adalah ciri cerdasnya sesorang. Makin sering ingat, makin cerdas. Seorang pejabat yang cerdas nggak akan berani korupsi kalau saat ditawari uang ia ingat mati dan bisa jadi ini adalah hari terakhir kehidupannya. PSK nggak akan jadi PSK kalau mereka ingat bagaimana jika maut menjemput saat sedang berzinah. Kalau dikasih contoh lagi bisa kepanjangan dan bikin
boring.., tapi dari contoh yang dua barusan, pasti kita semua paham bahwa mengingat mati bisa menjadi senjata melawan hawa nafsu. Itu cerdas. Mengingat mati adalah cambuk prestasi. Pelajar yang sering mengingat mati nggak akan tawuran, mereka akan maksimal belajar dan mencari cara untuk membahagiakan orang tuanya dengan prestasi. Karyawan penjualan akan berpikir bagaimana bekerja menjadi ibadah dengan jujur dan menjual lebih banyak. Bukan karena memandang boss-nya tetapi karena ingin selalu mengalahkan prestasi ibadah hari-hari sebelumnya. Mengingat mati melahirkan ketulusan cinta. Dengan cara bagaimanakah kita akan mencintai pasangan kita, jika kita tahu esok kita akan meninggal? Tentu saja dengan cara yang paling membahagiakannya dengan cara yang diridhai Allah. Sedekah bagaimana yang akan kita berikan hari ini, bila kita tahu esok kita akan berpulang? Yang jumlahnya besar dan ikhlas pastinya. Kalau sudah seperti itu, prestasi kita di dunia pasti akan gemilang. Mungkin kita tidak akan dikenal oleh seluruh dunia, tetapi saat kita sudah tidak ada lagi di dunia, setiap orang yang pernah kita sentuh kehidupannya akan berkata; "
.. dia orang yang sangat baik, seharusnya ada lebih banyak orang seperti dia ..". Di situlah terbukti bahwa mengingat mati menjadi kunci kemuliaan hidup di dunia dan akherat.
Bagaimana Bila Tak Ada Iman?
Setiap orang pada awalnya memiliki iman, kadar kesuburannya saja yang berbeda. Orang yang belum tumbuh imannya pasti nggak akan banyak mengingat mati. Tetapi kita doakan saja, semoga kejadian-kejadian kehidupan yang dekat dengan kematian bagi orang lain atau dirinya sendiri akan menyirami bibit iman di hatinya biar tumbuh subur. Jawaban berbeda untuk orang-orang yang hatinya tertutup dan membatu. Bibit imannya sudah mati karena kegersangan hati. Peringatan apapun nggak akan ada manfaatnya. Mereka pasti nggak akan ingat mati sama sekali, walaupun kita ingatkan. Bagaimana dengan atheis? Kalau untuk yang ini, kita meminjam jawaban Ali bin Abi Thalib ra., "Kalau engkau benar (bahwa tak ada kehidupan setelah di dunia), maka aku tetap selamat. Namun jika aku benar, engkau tak akan selamat".
Permintaan Bantuan Melengkapi Tulisan Ini
Jika sobat mengenal sosok-sosok terkini yang berhasil mengukir prestasi gemilang karena banyak mengingat mati. Silakan informasikan kepada saya melalui email
armanto.bejo-at-gmail.com atau melalui komentar di bawah. Terima kasih.
Source: Mengingat Mati, Memaksimalkan Hidup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar